JBOss nya si Boss…

gak lebih gak kurang .. hehehe… judul itu niatnya cuma provokatif doang …

namun yang emang baru kali ini mainan jboss, aplikasi ini gw pasang di application server, untuk koneksi dengan application clietn yang ada.. sekilas tentang jboss untuk sharing jBoss adalah sebuah application server yang dikembangkan oleh masyarakat open source. kita dapat menggunakan jBoss untuk menjadi EJB server/container.

Menjalankan Jboss gak perlu dengan apache tomcat, jboss aja jauh lebih berat disbanding tomcat.

jboss adalah container seperti tomcat. jboss baru jalan setelah diinstall java.

menjalankan JBoss diperlukan j2ee & jboss dunk..

donlot installation file

Anda dapat mendapatkan installation file dari http://www.jboss.org. semisal Linux JDK

File jdk-1_5_0_02-linux-i586.rpm

Installation dengan RPM file LINUX REDHAT

(Katanya sih Redhat dah membeli jboss seharga 31 trilyunan… gila gak tuh..) Misalkan di atas Linux, installation file yang Anda download bernama Linux JDK

File jdk-1_5_0_02-linux-i586.rpm

. Tentukan di mana Anda akan meng-install. Misalkan Anda akan meng-install ke directory /home/lab. Pindahkan file Linux JDK

File jdk-1_5_0_02-linux-i586.rpm ke directory pilihan Anda tersebut, selanjutnya jalankan ekstrak melalui console dari directory tersebut.

elesailah proses instalasi jBoss, dan Anda siap bekerja dengan Enterprise Java Bean dengan jBoss.

#cd /home

#cp jdk-1_5_0_02-linux-i586 /usr/local

#cd /usr/local

#chmod +x jdk-1_5_0_02-linux-i586.rpm.bin

#./ jdk-1_5_0_02-linux-i586.rpm.bin

#chmod +x jdk-1_5_0_02-linux-i586.rpm

#rpm –ivh jdk-1_5_0_02-linux-i586.rpm

Konfigurasi unutk file jboss

. vi /etc/profile

#set java environtment

JAVA_HOME=/usr/java/ jdk-1_5_0_02

CLASSPATH=.: $ JAVA_HOME/bin:$PATH

Export JAVA_HOME CLASSPATH PATH

 

Vi /etc/profile.d/java.sh

#set java environtment

JAVA_HOME=/usr/java/ jdk-1_5_0_02

CLASSPATH=.:$JAVA_HOME/lib/tools.jar

PATH=$JAVA_HOME/bin: $PATH

Export JAVA_HOME CLASSPATH PATH

Chmod 755 /etc/profile.d/java.sh

 

TEST APLIKASI JBOSS

 

#echo $JAVA_HOME

#echo $CLASSPATH

#echo $PATH

#java –version

Klo dah sukses akan muncul version javanya…

Struktur Directory Di Bawah JBOSS_HOME

Nah ini dia yang perlu di ketahui setelahnya …bahwa..di dalam directory JBOSS_HOME terdapat beberapa sub directory, di antaranya :

  • bin, di mana script untuk menjalankan dan menghidupkan jBoss berada.
  • client, di mana file-file library ber-extension .jar yang dibutuhkan untuk client.
  • lib, di mana file-file library ber-extension .jar berada.
  • server, di antaranya mempunyai sub directory default yang memuat file-file konfigurasi, jar yang dijalankan jBoss dalam default.

Proses Menjalankan jBoss

Untuk menjalankan jBoss, set variabel lingkungan JAVA_HOME agar memuat directory dimana java berada

Jalankan run.sh di dalam directory JBOSS_HOME/bin/

Ketik aja di directory binarynya

#./run.sh enter deh

Beberapa saat dia akan mengaktifkan dan emngupload modul2 yang diperlukan..

Proses Menghentikan jBoss

Untuk menghentikan jBoss, bukalah console baru/ maksdunya ini dilakukan di lain console selain console saat mengkatifkan jboss tadi.

Set variabel lingkungan JAVA_HOME agar memuat directory dimana java berada

Jalankan shutdown.sh di dalam directory JBOSS_HOME/bin/

Mematikannya ketikkan perintah

#./shutdown.sh enter deh

Atau jika ternyata kamu mengaktifkan nya menggunakan aplikasi monintoring/remote yang ternyata Cuma punya 1 console .. loe bisa aja.. lamngsung tekan tombol : Ctrl+ C bersamaa…

Oke … coba aja..

ISO 8583 DirjendPajak huiih…

Assalamu alaykum .. semua… hehehe … ngeliat judulnye…. bukan berarti bahwa ISO 8583 ini dari dan buatan nye Dir jend pajak ya… hanya… memang transaksi terbaru untuk mempermudah alur transaksi antara kebutuhan pajak dengan nasabah…

Lebih gambalang nye bahwa.. ini merupakan Proyek untuk melakukan integrasi dan pertukaran data antara nasabah si bank, Bea dan Cukai dan Ditjen Pajak. Proyek ini sebenernya di subkan ke seseorang yang katanya ngerti sistem perbankan, setiap kana di operasionalkan aplikasi tersebut mesti harus di lakukan UAT (User Acceptance Test).
Proses bisnis diawali pengiriman data pajak-pajak impor yang biasanya dilakukan oleh si nasabah secara manual berganti secara elektronik, kita sebut saja dengan nama Payment Order (PAYORD). Nah, PAYORD ini biasanya tidak dilakukan secara langsung oleh si nasabah yang notabene adalah importir namun diuruskan oleh PPJK. Masalahnya antara importir dan PPJK sering terjadi miss communication. Sekarang maunya importir juga bisa mengetahui alur proses data yang diuruskan oleh PPJK dan bank. Ok, maunya si importir kita akomodasi dah.

Kebutuhan yang lain di sisi bank. Bank pengennya, data PAYORD yang di kirimkan ke dia bisa langsung di pecah menjadi data SSP (Surat Setoran Pajak — dikirim ke DJP) dan SSPCP (Surat Setoran Pajak, Cukai dan Pabean — dikirim ke BC). Ok, clear deh semua user requestnya.

Kebetulan ikut team programing development dan UAT utk aplikasi gateway server switching pajak … jadi mau gak mau di tuntut utk paham ISO 8583 dirjen pajak nya… Jadi aku mo cerita yang sistem pengiriman data ke Pajak aja…

Ditjen Pajak telah mengimplementasikan sistem MP3 (bukan file musik ya…) yaitu sistem untuk memonitor pemberitahuan pembayaran pajak yang dilakukan oleh bank-bank devisa persepsi yang menerima pembayaran pajak-pajak. Sistem ini mengunakan metode request-respon dengan standar dokumen ISO8583 yaitu sebuah standar dokumen untuk pertukaran data keuangan secara real time. Bentuk data-nya sederhana dan hampir semua berisi data numerik. Biasanya dokumen ini digunakan di mesin-mesin ATM. Ini hal baru man buat aku, biasanya ngertinya cuman standar UN-EDIFACT doang… heheh

Ditjen Pajak mengeluarkan panduan implementasinya. Pada intinya data yang dikirimkan terbagi menjadi data Financial Transaction (kode pengenalnya 02xx), Reversal (pembatalan transaksi– kode pengenalnya 04xx) dan Network Management (kode 08xx). Setiap dokumen request yang dikirim akan mendapatkan respon dengan tambahan nilai 10. Jadi misalnya request Network Management dengan kode 0800 maka akan dibalas dengan respon 0810, 0200 dibalas dengan 0210 dan seterusnya. Hasil akhir yang ingin dicapai sebenernya sih penerbitan respon NTPP (Nomor Tanda Pembayaran Pajak).

Komponen paket data ISO8583-MP3 terdiri dari Data Start (ISO), MP3 Header (011000017), kode pengenal paket data (08xx/02xx/ 04xx), Primary/Secondary Bitmap (64 bit) dan isi dari data sendiri (data element). Data elementnya dan secondari bitmapnya sendiri diatur kemunculan di primary bitmap.. <– apa pula nech hahaha… Header data sendiri juga ada penjelasnya lengkap, namun nggak perlu aku uraikan disini karena nggak ngaruh (kebanyakan di hardcode aja..bukan variabel data) hahaha…

Element data disimbolkan dengan P-x. Jadi misalnya di primary bitmap request disebutkan sbb.

0111001000111000010000000000000100001000100000011000000000000000

Artinya element data yang harus muncul setelah primari bitmap adalah di bit 2, 3, 4, 7, 11, 12, 13, 18, 32, 37, 41, 48 dan 49. Ambil contoh yang muncul bit 2 (P-2), berdasarkan panduan P-2 artinya adalah Primary Account Number yang di representasikan oleh numerik sepanjang 16 digit. Atau ambil contoh lagi bit 3 (P-3), berdasarkan panduan berarti kemnculan elemen data Processing Code yang direpresentasikan oleh nilai numerik 6 digit berisi kode dan jenis transaksi yaitu 200000 (pembayaran SSP), 300000 (inquiry) dan 200001 (pembayaran SSP tanpa NPWP). Okeh cukup khan..?? Masalahnya kalo dicontohkan semua panjang nech… bisa jadi novel! :D
Jadi paket data lengkap yang dikirimkan menjadi (ini hanya contoh — sengaja aku pecah per bit, aslinya sih cuman satu baris aja..)

ISO
011000017
0200
0111001000111000010000000000000100001000100000011000000000000000
160000000000015228
200000
000000010000
0611084115
123456
100221
0520
7010
040305
000000000001
0000000000000001
0460100111610530000011110002022002000000000000000
360

Setelah melakukan request, sistem inhouse MP3-Pajak akan langsung mengeluarkan respon yang diletakkan di bit ke-39, maka primary bit response biasanya sbb :

0111001000111000010000000000000100001010100000011000000000000000

Lihat di bit 39 bernilai “1″ artinya element data di response akan ada kemunculan bit-39 (P-39) yang direpresentasikan oleh numerik sepanjang 2 digit. Contoh respon sbb.

ISO
011000017
0210
0111001000111000010000000000000100001010100000011000000000000000
160000000000015228
300000
000000010000
0611084115
123456
100221
0520
7010
04 0305
000000000001
00 <– bit 39
0000000000000001
160CITI BANK N.A. LANDMARK CENTER LT.4 JL.JEND. SUDIRMAN KAV.1 – SETIA BUDI PPh Pasal
21 Masa / Angsuran
360

Lihat! Di bit ke-39 bernilai “00″ artinya pengiriman data kita di approve/sukses.

namun untuk bit 39 ini .. berbeda antara kebutuhan pajak dengan kebutuhan transaksi perbankan lain nya.. seperti atm dan mobile banking…

Hebatnya lagi sistem ini, jika pada saat komunikasi data terdapat kegagalan, maka kita diperbolehkan mengirimkan data advice dengan menyebutkan alasan pengiriman data advice tersebut, misalnya karena time-out atau hal lain yang diletakan di bit ke-60.

unutk lambat laun aplikasi yang gw hadepin .. aplikasi under server … palikasi ini lebih simple di banding aplikasi switchig lainnya … namun dari sisi lain aplikasi under client yang sedang dilakukan maintenance terus menerus (kelihatannya gak kelar2 tuh) nah ini yang buat masalh hingga setiap reconsiliasi harus terjadi update-an manual… dengan saat2 yang menegangkan tiap sore harinya … cut off.. cut off… pelimpahan… pelimpahan… hehehehe… parah neh.. mudah2an cepet kelar maintenance aplikasinya..

Test Sinkronisasi in Cluster High avaibility

Test High Availability

Step 1 : Pastikan anda di root (pada masing-masing mesin)

#/usr/bin/su – root

Step 2 : Pastikan drbd dan hertbeat anda sudah berjalan (pada masing-masing mesin)

#/etc/init.d/drbd status

#/etc/init.d/heartbeat status

Step 3 : Pastikan anda di primary (pada mesin primary)

#/etc/init.d/drbd status

Step 4 : Jalankan postgresql pada primary

#/etc/init.d/postgresql start

Step 5 : Create database pada primary

#su – postgres

#createdb testdb

Step 6 : Kejadian terjadi pada primary (primary)

#halt

Step 7 : Lihat Status pada secondary

#cat /proc/drbd

Seharusnya secondary akan menjadi primary dan postrgesql pada secondary akan berjalan secara otomatis

Step 8 : Melihat perubahan database

#su – postgres

#psql -d testdb

Anda akan melihat bahwa testdb sudah di backup dan database sudah dijalankan oleh secondary

Konfigurasi Aplikasi Client MPN Prima

Konfigurasi MPN Prima

Requirement server yang harus tersedia:

  1. Database Server yang telah terinstall PostgreSQL versi 8.2.3-1.
  2. Application Server yang telah terinstall aplikasi “jboss” versi 4.0.4.

Berikut adalah konfigurasi kedua server tersebut:

A.   Konfigurasi Database Server

1.     Nama database: “MPN”

2.     Nama schema database: “mpn”

3.     Nama owner/user database: “mpn”

4.     Nama user postgreSQL: “postgres”

5.     Password postgreSQL: “password”

6.     Setting database postgreSQL agar dapat diakses dari luar (jaringan).

B.   Konfigurasi Application Server

1.     Copy-kan file “olibsee-ds” (attachment) ke direktori deploy server tempat diinstallnya aplikasi Jboss. Misal diinstall pada direktori c:/program files/jboss (kemudian disebut direktori Jboss_home), maka di-copy-kan ke direktori “Jboss_home/server/default/deploy/”.

2.     Copy-kan file “postgresql-8.2-504.jdbc3.jar” yang merupakan JDBC untuk database postgreSQL ke direktori “Jboss_home/server/default/lib/”

3.     Edit file “olibse-ds” menjadi sebagai berikut:

4.     Gantilah IP Address menjadi IP Address Database Server.

Aplikasi dipisahkan menjadi 2 bagian, yaitu aplikasi server dan aplikasi client. Keduanya harus dikonfigurasi terlebih dahulu sebelum dapat menjalankan aplikasi MPN Prima. Berikut adalah konfigurasinya:

A.   Konfigurasi Aplikasi Server

Requirement software di komputer server:

1.      Java: jdk-1_5_0_06-windows-i586-p atau lebih.

2.      Tools: eclipse-SDK-3.1.2-win32.

3.      SWT Designer_v5.0.0_for_Eclipse3.1.

4.      JBossIDE-2.0.0.Beta1-ALL.

Tahapan konfigurasi:

1.      Extract tools eclipse ke direktori C:/eclipse (kemudian disebut eclipse_home).

2.      Extract “Designer_v5.0.0_for_Eclipse3.1″ ke eclipse_home (overwrite all).

3.      Extract “JBossIDE-2.0.0.Beta1-ALL” ke eclipse_home (overwrite all).

comment: memasukkan swt builder ke eclipse:

4.      Run eclipse à windows à preferences à Designer.

5.      Pilih menu “Registrastion and Activation”, pilih radio button “Windows builder (SWT and Swing)” dan radio button “professional evaluation”, dan masukan identitas diri.

6.      Pilih radio button “By email”. Masukkan Serial Number dan Activation Key dengan cara menjalankan file “Keygen.jar” pada console dengan perintah :

javac -jar

comment: finish insert swt builder to eclipse.

comment: mengimport aplikasi server yang telah ada

7.      File à New à Project à Java Project sehingga ada gambar berikut:

8.      Pilih “create project from existing source” lalu browse direktorinya. Setelah selesai, maka masukan library server Jbossnya dengan cara:

comment: memasukkan library Jboss_home IDE server

9.      Pilih add variable à Jboss Libraries, masukan direktori Jboss_home.

comment: setting persistence.xml

10.  Tulislah persistence.xml seperti diatas

B.   Konfigurasi Aplikasi Client

1.     Lakukan terlebih dahulu seperti pada poin A mengenai konfigurasi server tahap 7 dan 8. lalu Pilih add variable à user libraries, masukan semua file yang berekstensi *.jar yang berada di dalam direktori Jboss_home/client.

2.     Jar file yang dibutuhkan di aplikasi client (disimpan di direktori eclipse_home/plugins) adalah:

a.       org.eclipse.core.commands_3.1.0.jar

b.      org.eclipse.core.resources_3.1.2.jar

c.       org.eclipse.core.runtime_3.1.2.jar

d.      org.eclipse.equinox.common_3.2.0.v20060603.jar

e.       org.eclipse.equinox.registry_3.2.1.R32x_v20060814.jar

f.        org.eclipse.jface_3.2.1.M20060908-1000.jar

g.       org.eclipse.jface.text_3.2.1.r321_v20060810.jar’

h.       org.eclipse.osgi_3.2.1.R32x_v20060919.jar

i.         org.eclipse.swt.win32.win32.x86_3.1.2.jar

j.        org.eclipse.text_3.2.0.v20060605-1400.jar

k.      org.eclipse.ui.forms_3.2.0.v20060602.jar

l.         org.eclipse.ui.workbench_3.2.1.M20060906-0800.jar

comment: konfigurasi JNDI.properties

3.     Ubahlah “java.naming.provider.url” ke IP Address application server.

Punten, sa-aya2 heula we nya. Mun aya nu teu ngartos tina dokumen ieu (pasti aya nya?) siaplah membantu. OK!

Wassalam,

..: HeartBeat instalastion 4 Cluster :..

Instalasi Hertbeat

Heartbeat adalah bagian Linux High Availability untuk membackup service yang dijalankan pada primary. Heartbeat mempunyai kemampuan memonitor server primary, jika server tersebut mati maka service yang ada pada server primary itu akan di jalankan secara otomatis pada mesin backup.

Step 1 : Instalasi semua paket yang berawalan Heartbeat

#rpm -ivh heartbeatxxxx.rpm

Step 2 : Copy File Konfigurasi Heartbeat

Copy file konfigurasi dari share doc linux

#cp /usr/share/heartbeat-1.2.3/authkeys /etc/ha.d/

#cp /usr/share/heartbeat-1.2.3/ha.cf /etc/ha.d/

#cp /usr/share/heartbeat-1.2.3/haresources /etc/ha.d/

Step 3 : Konfigurasi Autentifikasi Data

#vi /etc/ha.d/authkeys

auth 1

1 md5 password

Agar data di transmisikan secara secure, maka gunakan MD5 atau jika sangat secure lagi gunakan SHA1. Hal ini berguna jika network kita melalui hop yang not secure.

Ubahlah atribut file authkeys menjadi read only agar password hanya dapat dibaca oleh root.

#chmod 600 /etc/ha.d/authkeys

File authkeys ini haruslah berisi sama pada masing2 mesin

Step 4 : Konfigurasi High Availability.

#vi /etc/ha.d/ha.cf

Aktifkan log, agar memudahkan kita untuk trace kesalahan

debugfile /var/log/ha-debug

logfile /var/log/ha-log

Jika anda menggunakan komunikasi cadangan misal ethernet atau serial, maka ubahlah parameter “bcast” dan “serial”. Contoh file konfigurasi dengan hanya memakai ethernet saja adalah sebagai berikut

node RHLinux1

node RHLinux2

keepalive 2

bcast eth0

deadtime 10

auto_failback on

Tool untuk membantu adalah :

#hostname

untuk mengetahui hostname dari masing-masing komputer

#ifconfig

untuk mengetahui ethernet yang aktif pada komputer

Step 5 : Konfigurasi haresources

File ini harus sama pada masing-masing mesin. Contoh file isi file ini adalah :

#vi /etc/ha.d/haresources

RHLinux1 192.168.1.243 drbddisk::r0 postgresql

“RHLinux1” adalah nama node primary

“192.168.1.243” adalah IP virtual yang menjadi pusat high availability (lihat gambar).

“drbddisk::r0” adalah service yang akan menjadi high availability. Jika ingin menambahkan parameter pada drbddisk maka gunakan tanda ”::” seperti terlihat.

“postgresql” adalah service yang menjadi high availability.

Step 6 : Menjalankan heartbeat

#/etc/init.d/heartbeat start

Jika semua berjalan lancar. Anda dapat menjalankan scenario test high availability.. dan selanjutnya baru action di cluster nya untuk .sinkronisasi…

Cluster 1st Step instalation with DRBD

Database High-Avaliability dengan Contoh Kasus : Service POSTGRESQL (23 Oct 2005 Doc Ver 0.1)

Untuk menjaga service dari suatu database atau aplikasi maka perlu dibuatkan suatu mekanisme backup dari service database yang dijalankan. Banyak metoda yang bisa dipakai agar database dapat terus berjalan. Salah satu cara nya adalah menggunakan High Availability Cluster. Pada dokumen ini akan dijelaskan cara agar Postgresql dan Linux Redhat dapat berjalan secara High Availability dengan memakai tools : DRBD dan Heartbeat.

DRBD (Distributed Replication Network Block) adalah tools open source yang digunakan untuk mirror disk.

Heartbeat adalah : tools untuk menjaga service dari suatu network dapat berjalan normal walaupun mesin produksi terjadi crash atau berhenti. Kemampuan heartbeat adalah memonitor server production dan menjalankan service database backup jika diperlukan (jika primary crash). Arsitektur dari High Availability Cluster dapat terlihat pada gambar 1. Sedangkan Untuk mesin backup yang jauh, arsitektur seperti terlihat gambar 2.

Instalasi DRBD

Untuk install DRBD, mesin linux haruslah mempunyai kernel source. Kernal Source ini didapat pada saat kita meng-install linux dengan menambah option kernel development.

Untuk mengetahui kernel source sudah di install :

#ls /usr/src/linuxXXX ,

Jika dalam direktori tersebut terdapat Makefile, maka anda sudah mempunyai kernel source.

Step 1 : Mempersiapkan Kernel Source

#cd /usr/src/linux atau

#cd /usr/src/linux-2.4 atau

#cd /usr/src/linux-2.4.21-4.EL

Gambar 2 : High Availability Cluster dengan mesin backup yang berjarak jauh

Step 2 : Sesuaikan Makefile dengan kernel

#vi Makefile

Ubah EXTRAVERSION, dengan menghapus “custom”

Step 3 : Membuat Clone Konfigurasi Kernel

#make mrproper

Step 4 : Copy Configurasi Kernel

#ls /boot

lihat file yang berawalan config, copy file tersebut

#cp /boot/config-2.4.21-4.EL .config

Step 5 : Install Konfigurasi kernel tersebut

#make -s oldconfig_nonint ; make -s oldconfig_nonint

#make dep

Step 6 : Extract drbd, misalkan drbd-0.7.13.tar.gz berada pada /drbd_installer

#cd /usr/src

#tar -xvzf /drbd_installer/drbd-0.7.13.tar.gz

Step 7 : Ubah drbd_config.h

#cd drbd-0.7.13/

#vi drbd_config.h

ubah IGHAND_HACK agar di eksekusi (hapus tanda komentar “//”)

Step 8 : Pastikan proses install berjalan normal

#cd /usr/src/drbd-0.7.13/drbd

#make clean all

Step 9 : Ubah preconfigured kernel header

Untuk mengetahui versi kernel dengan pasti anda dapat mengetik

#uname -r

Sekarang ubah preconfigured kernel header

#make clean ; make KDIR = /lib/modules/’uname -r’/build

Step 10 : Install DRBD

#cd ../user/

#make

#cd ..

#make install

Jika Step ini tidak ada masalah, berarti anda telah sukses Install DRBD, proses selanjutnya adalah konfigurasi DRBD

Step 11 : Konfigurasi drbd.conf, harus sama pada masing-masing station

#vi drbd.conf

Sesuaikan Node Konfigurasi. Tool yang dapat dipakai adalah

#fdisk -l

untuk mebngetahui space management hardisk yang ada

#hostname

untuk mengetahui hostname dari masing-masing komputer

#ifconfig

untuk mengetahui ip yang ada pada komputer

#netstat -an

untuk mengetahui port network yang terbuka.

Untuk masing-masing device yang di mirror seharusnya melebihi dari 256 MB. Hal ini merupakan syarat mirroring dari device. Pengaturan space ini diatur pada saat instalasi linux.

Untuk konfigurasi IP pada drbd.conf, seharusnya gunakanlah IP yang secara langsung terhubung ke eth backup (gunakan cross cabel, dan class nya dibuat berbeda dengan yang terhubung ke HUB/SWITCH). Akan tetapi jika anda menginginkan konfigurasi untuk 1 ethernet saja, misal untuk terhubung ke DRC, maka IP tersebut bisa saja dipakai, akan tetapi akan menambah load jaringan pada saat full synchronize.

Setelah sukses dengan konfigurasi anda dapat mencoba drbd dengan perintah

#/etc/intit.d/drbd start

Jika server backup sudah di konfigurasi dengan benar, maka sinkronisasi disk akan berlangsung. Untuk membuktikannya ketik perintah ini

#cat /proc/drbd

Step 12 : Membuat File System pada device yang di sharing

Mount device tersebut dengan drbd

#mke2fs -j /dev/drbd0

Step 13 : Mount File System yang sudah di buat file system tersebut

#mount /dev/drbd0 /var/lib/pgsql

Kita akan mirroring semua yang ada pada /va/lib/pgsql

Step 14 : Penentuan Primary dari Sistem

Saat kita suskes melakukan “drbd start”, maka state pada masing-masing mesin adalah :

0: cs:Connected st:Secondary/Secondary ld:Inconsistent ns:0 nr:0 dw:0 dr:0 al:0 bm:1 lo:0 pe:0 ua:0 ap:0

Untuk mengubah station menjadi primary maka :

#drbdadm — –do-what-I-say primary all

Hal ini akan mengubah station menjadi primary dan syncronisasi full akan berjalan.

ConF & iNsTaLasi Db2 in RH9x

nah ini dia .. kerjaan yang satu ini .. bukan kerjaan rutin sih .. tapi bagian dari konfigurasi server sebelum di pasang aplikasi server Utama ..::EMber — hehehEmware dink.. sedikit berbagi … instalasi ini diperlukan ketika aplikasi server membutuhkan modul konektifitas dengan database berbasis DB2 .. langsung aja saya sebarkan.. dari para sesuahu nih tips and trik nya…

Prerequisite sebelum install DB2 7.1 pada Linux Redhat 9:
1. Pastikan sudah diinstal paket compat-libstdc++
(Standard C++ libraries for Red Hat 7.3 backwards compatibility compiler)
bisa di ambil di
ftp://194.199.20.114/linux/redhat/9/en/os/i386/RedHat/RPMS/compat-libstdc++-7.3-2.96.118.i386.rpm
Untuk buktikannya bisa dgn perintah : rpm -qa | grep compat-libstdc

2. Pastikan perintah useradd, groupadd, bisa dilakukan oleh root. Hal ini berguna agar db2setup dapat create user and group dgn scriptnya sendiri. Jika belum dapat dilakukan:
export PATH=$PATH:/usr/sbin/
echo $PATH (untuk pastikan nya)

3. yang ketiga … konfigurasi dulu pada systemnye..

# Add for DB2 V7.1 to /etc/sysctl.conf, run sysctl -p
kernel.core_uses_pid = 1
kernel.shmmax = 1073741824
kernel.msgmni = 1024
kernel.sem = 250 3200 32 1024
fs.file-max = 8192

4. jangan lupa unutk meng-Update GLIBC:
Dapat diambil di :
http://download.fedoralegacy.org/redhat/9/updates/i386/
rpm -Uvh –nodeps compat-libstdc++-7.3-2.96.118.i386.rpm
rpm -Uvh –nodeps glibc-2.3.2-27.9.7.i386.rpm
rpm -Uvh –nodeps glibc-common-2.3.2-27.9.7.i386.rpm
rpm -Uvh –nodeps glibc-debug-2.3.2-27.9.7.i386.rpm
rpm -Uvh –nodeps glibc-devel-2.3.2-27.9.7.i386.rpm
rpm -Uvh –nodeps glibc-profile-2.3.2-27.9.7.i386.rpm
rpm -Uvh –nodeps glibc-utils-2.3.2-27.9.7.i386.rpm

5. Instal DB2
Masukkan CDROM
./db2setup

Setelah install DB2: kemudian buat link dan buat katalog.. berilkut contohnya..
3837
-18.9bigmem
/usr/IBMdb2/V7.1/instance/db2icrt -a SERVER -u db2admin emware
KV_TEMP

db2 catalog tcpip node tcpbgkl remote 192.168.1.207 server 50000
db2 catalog tcpip node tcpnttA remote 192.168.1.101 server 50000

db2 catalog tcpip node TCPKONV remote 192.168.128.14 server 50000
db2 catalog tcpip node TCPSYRH remote 192.168.128.14 server 50002
db2 catalog database OLIBS_SY at node TCPSYRH
ls

tellercvdrv->UpdateFlagTeller(“1″);

DB20000I The CATALOG TCPIP NODE command completed successfully.
DB21056W Directory changes may not be effective until the directory cache is refreshed.

db2 catalog tcpip node TMPSYRH remote 192.168.128.14 server 50002
db2 catalog database SY_OLIBS at node TMPSYRH
db2 catalog tcpip node TMPKONV remote 192.168.128.14 server 50000
db2 catalog database DBH_SPKV at node TMPKONV

DB20000I The CATALOG DATABASE command completed successfully.
DB21056W Directory changes may not be effective until the directory cache is refreshed

DEVELOPMENT
db2 catalog tcpip node TCPSYRH remote 192.168.128.14 server 50002
db2 catalog tcpip node TCPSYRH remote 192.168.1.100 server 50000
db2 catalog database OLIBS_SY at node TCPSYRH

db2 catalog tcpip node TCPBNGKL remote 192.168.1.21 server 50000
db2 catalog database DBBENGKL at node TCPBNGKL

SISPEN
db2 catalog tcpip node TCPBNGKL remote 192.168.1.132 server 50002
db2 catalog database DBBENGKL at node TCPBNGKL

db2 catalog tcpip node TCPIRJA remote 150.150.1.37 server 50000
db2 catalog database DBHIRJA1 at node TCPIRJA

Database 1 entry:
Database alias = DBHIRJA1
Database name = DBHIRJA1
Node name = TCPIRJA
Database release level = 9.00
Comment =
Directory entry type = Remote
Catalog node number = -1

db2 => LIST NODE DIRECTORY

Node Directory
Number of entries in the directory = 1
Node 1 entry:
Node name = TCPIRJA
Comment =
Protocol = TCPIP
Hostname = 192.168.1.210
Service name = 50000

best regard : wildan ..